Sunday, February 21, 2016

Indonesia, Negeri Diantara Cincin Api (Land Among The Ring of Fire)

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan daratan dan lautan. Daratan Indonesia dikenal memiliki keragaman flora dan fauna. Tanah yang subur ditumbuhi pepohonan nan hijau dan berbagai ekosistem tanah, memberikan udara yang sejuk dan sehat. Perairan laut yang luas tempat bermacam-macam hewan maupun tumbuhan laut melengkapi keindahan Indonesia. Kita telah mengenal beberapa tempat eksotis melalui blog ini.
Indonesia is a country, rich of land and sea. Indonesian land is known have many kind of flora and fauna. Arable land with green trees and a wide range of ecosystem, providing a healthy and cool air. Marine waters as a place of sea animals and plants complement the beauty of Indonesia. We already know some of the exotic places through this blog.

Namun diantara keindahan itu, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan bencana yang setiap saat datang. Ya...secara geografi Indonesia dilingkari jalur gempa paling aktif di dunia, Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), sekaligus dibelit jalur gempa teraktif nomor dua di dunia, Sabuk Alpide (Alpide Belt). Bahkan ditambah lagi dengan bertemunya 3 (tiga) lempeng benua, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.
But among them, Indonesian people have to prepare for a possible disaster to come sometimes. Yes ... geographically, this country is circled by the most active earthquake belt  in the world, the Pacific Ring of Fire, as well as kinked by the most active earthquake belt number two in the world, Alpide Belt. Even worse that it's among three continental plate, the Indo-Australian from southside, the Eurasia from northside, and the Pacific from eastside.

 

Peta Cincin Api Pasifik, Sabuk Alpide dan Lempeng Benua
Map of the Pasific Ring of Fire, Alpide Belt and Continental Plate


Cincin Api Pasifik merupakan jalur gunung berapi dan garis tumbukan lempeng yang membentang 40.000 kilometer mulai dari pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke Amerika Utara, melingkar ke Kanada, Semenanjung Kamtschatka, Jepang, membuat simpul di Indonesia, lalu ke Selandia Baru, dan kepulauan di Pasifik Selatan. 80% gempa terkuat di Bumi terjadi di jalur ini. Sedangkan Sabuk Alpide, melalui jalur pegunungan dari Timor ke Nusa Tenggara, Jawa, Sumatera, lalu terus ke Himalaya, Mediterania, hingga Atlantik, 17% gempa di Bumi terjadi di jalur ini.
The Pasific Ring of Fire is a path of volcano and the line of plate collision that stretches about 40,000 kilometers from the west coast of South America, continue to North America, circular to Canada, the peninsula of Kamtschatka, Japan, make a knot in Indonesia, then to New Zealand, and the Pacific South. 80% of the strongest earthquakes on Earth occur at it. While Alpide Belt, through the mountains of East Nusa Tenggara, Java, Sumatra, and then continue to the Himalayas, the Mediterranean, to the Atlantic, 17% of earthquakes on Earth occur at this path.

Gempa terkuat salah satunya adalah yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu yang menyebabkan tsunami. Dengan kekuatan Mw 9,1–9,3, gempa ini merupakan yang terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan memiliki durasi terlama sepanjang sejarah, sekitar 8,3 sampai 10 menit. Gelombang tsunami yang puncak tertingginya mencapai 30 meter ini menewaskan lebih dari 230.000 orang di 14 negara dan menenggelamkan banyak permukiman tepi pantai. Ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia adalah negara yang terkena dampak paling besar, diikuti Sri Lanka, India, dan Thailand.
One of the strongest earthquake was in Aceh on December 26, 2004 and caused tsunami disaster. Its power was Mw 9.1 to 9.3, and become the third largest ever recorded on a seismograph and had the longest duration in history, about 8.3 to 10 minutes. Tsunami waves reached the highest peak at 30 meters killed more than 230,000 people in 14 countries and many seaside settlements disappeared. This was one of the deadliest natural disasters in history. Indonesia got the most impact, followed by Sri Lanka, India, and Thailand.

Sejarah mencatat, gempa telah beberapa kali terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah yang tertulis dalam buku Nusantara: Sejarah Indonesia, 1961 oleh Sejarawan Bernard HM Vlekke, letusan gunung dan gempa bumi begitu sering terjadi di negeri ini. Salah satu pulau yang paling sering dilanda gempa adalah Sumatera. 
History showed us that earthquake happened in Indonesia several times. One of them was written in the book of Nusantara: Sejarah Indonesia, 1961 by the historian Bernard HM Vlekke, volcanic eruptions and earthquakes were so common in this country. The most island frequently hit by earthquakes was Sumatra.

William Marsden dalam bukunya, Sejarah Sumatera, 1783 mengatakan ”Gempa bumi paling keras saya alami terjadi di Manna (Bengkulu), tahun 1770. Sebuah kampung musnah, rumah-rumah runtuh dan habis dimakan api. Beberapa orang tewas.

William Marsden in his book, Sejarah Sumatra, 1783 said, "The strongest earthquake was in Manna (Bengkulu), 1770. A village destroyed, houses collapsed and burned. Many people were killed.

Ahli ilmu alam dari Jerman, GE Rumphius, mencatat dalam bukunya, Amboina, 1675, tentang tsunami yang melanda Ambon pada 1674. Inilah salah satu catatan tertua tentang tsunami yang melanda Indonesia, yang menewaskan anak dan istri Rumphius serta ribuan orang.
Natural scientist from Germany, GE Rumphius, wrote in his book, Amboina, 1675, about the tsunami that hit Ambon in 1674. It was one of the oldest records of tsunami that strucked Indonesia, which killed his children and wife and thousands of people.


Gunung Berapi
Volcanos 

Gunung berapi dengan memiliki letusan terdahsyat di Bumi juga ada di negeri ini. Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang meletus pada April 1815 telah mengguncang dunia. Dalam memoarnya The History of Java, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles, mengatakan, "Letusan pertama Gunung Tambora terdengar pada 5 April 1815 di Pulau Jawa (Jakarta), terdengar selama 15 menit dan berlangsung sampai kesokan harinya, seperti meriam".
The volcano that had the most powerful eruption in Earth also exist in this country. Mount Tambora in Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, which erupted on April 1815 had shaken the world. In his memoir The History of Java, Governor General of the Dutch East Indies, Thomas Stamfford Raffles, said, "The first eruption of Mount Tambora was heard on 5 April 1815 in Java (Jakarta), sounded for 15 minutes and lasts until the next day, like a cannon".
 


Ilustrasi letusan gunung Tambora tahun 1815
Illustration of mount Tambora eruption on 1815 

Catatan tentang letusan Gunung Tambora juga tercantum pada naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai, “Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah krisik batu dan habu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam,” sebut naskah kuno itu.
Notes about the eruption of Mount Tambora were also listed on ancient manuscripts the Kingdom of Bima, Bo Sangaji Kai, "So dark turned back over that night, then there was sound like a cannon of war, and then came down gravel stones and ashes like shed for about three days and two nights, "said the manuscripts.

Letusan gunung Tambora merupakan yang terbesar dalam catatan sejarah modern, yang menyebabkan ketinggiannya menyusut hampir separuhnya menjadi 2.700 meter dari permukaan laut. Aerosol asam sulfat yang dilontarkan ke atmosfer tertahan disana menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa, mengakibatkan bencana kelaparan, memicu wabah penyakit, dan kematian berskala global.
The eruption of Mount Tambora was the largest in modern history, which caused to its height shrunk by almost half to 2,700 meters above sea level. Sulfuric acid aerosols were thrown into the atmosphere and stucked there creating a year without summer in Europe, resulting in famine, triggering outbreaks of disease, and death on a global scale.


Letusan Tambora menyusutkan hampir separuh ketinggiannya 
Tambora's eruption shrunk by almost half of its height



 Gunung Tambora di tengah tumbuhan yang hijau dan subur
 Mount Tambora in the middle of green and lush plants

68 tahun kemudian, tepatnya bulan Agustus 1883, dunia dibangunkan kembali dengan letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan, menciptakan tsunami hebat, dan meruntuhkan kaldera serta melenyapkan sebagian pulau di sekelilingnya. Anak Krakatau yang tumbuh cepat dari dasar laut menjadi laboratorium alam paling lengkap yang mengajarkan suksesi ekologi bagi ilmuwan seluruh dunia.

68 years later, on August 1883, the world was awoken again with the eruption of Krakatau in the Sunda Strait. This eruption was one of the most deadly volcanic eruptions and the most destructive in history, causing at least 36,417 deaths, creating a great tsunami, and brought down the caldera and eliminate most of the surrounding islands. Anak Krakatau (the name of next generation of Krakatau) was growing rapidly from the seabed, become a natural laboratory that teaches the most complete ecological succession for scientists all over of the world.


Ilustrasi letusan gunung Krakatau tahun 1883
 Illustration of mount Krakatau eruption on 1883


 Aktivitas Anak Krakatau
Anak Krakatau activity

Jauh sebelumnya, sekitar 74.000 tahun lalu, dunia mengenal letusan Gunung Toba di Sumatera Utara. Letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) ini telah mengubah sejarah Bumi dan isinya. Kegelapan total menyelimuti Bumi bertahun-tahun, menyebabkan nenek moyang manusia modern (homo sapiens) nyaris punah. Periode gelap ini dikenal sebagai Bottleneck dalam sejarah evolusi manusia. Danau Toba yang sekarang kita kenal dengan pulau Samosir ditengahnya, diyakini merupakan kaldera dari beberapa letusan gunung Toba.
Long long time before, about 74,000 years ago, the world knew the eruption of Mount Toba in North Sumatra. Giant volcanic eruption (supervolcano) had changed the history of the Earth and its contents. Total darkness had wrapped the Earth for many years, causing the ancestors of modern humans (Homo sapiens) were almost extinct. This dark period was known as the Bottleneck in human evolutionary history. Now, Lake Toba as we know with the island of Samosir in the middle, is believed as the caldera of Toba's multiple eruptions.



















Gambaran letusan Supervolcano Toba dibandingkan gunung lainnya
Description of Toba Supervolcano's eruption to be compare with the other



























Danau Toba
Lake Toba

No comments:

Post a Comment